Blog

  • Pulau Komodo

    Pulau Komodo

    Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara, berada di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape. Pulau  dikenal sebagai habitat asli hewan komodo

    Pulau ini termasuk salah satu kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat.

    Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Kecamatan Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

    Di Pulau Komodo, hewan komodo hidup dan berkembang biak dengan baik. Hingga Agustus 2009, di pulau ini terdapat sekitar 1300 ekor komodo. Ditambah dengan pulau lain, seperti Pulau Rinca dan dan Gili Motang, jumlah mereka keseluruhan mencapai sekitar 2500 ekor. Ada pula sekitar 100 ekor komodo di Cagar Alam Wae Wuul di daratan Pulau Flores tapi tidak termasuk wilayah Taman Nasional Komodo.

    Selain komodo, pulau ini juga menyimpan eksotisme flora yang beragam kayu sepang yang oleh warga sekitar digunakan sebagai obat dan bahan pewarna pakaian, pohon nitak ini atau sterculia oblongata diyakini berguna sebagai obat dan bijinya gurih dan enak seperti kacang polong.

    Pulau juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, karena dalam wilayah Taman Nasional Komodo, bersama dengan Pulau Rinca, Pulau Padar dan Gili Motang

    Sejarah

    Pada tahun 1910 orang Belanda menamai pulau di sisi selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dengan julukan Pulau . Cerita ini berawal dari Letnan Steyn van Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang adanya hewan besar menyerupai naga di pulau tersebut. Steyn lantas membunuh seekor komodo tersebut dan membawa dokumentasinya ke Museum and Botanical Garden di Bogor untuk diteliti.

    Tahun 2009, Taman Nasional Komodo dinobatkan menjadi finalis “New Seven Wonders of Nature” yang baru diumumkan pada tahun 2010 melalui voting secara online di www.N7W.com.Pada tanggal 11 November 2011, New 7 Wonders telah mengumumkan pemenang sementara, dan Taman Nasional Komodo masuk kedalam jajaran pemenang tersebut bersama dengan, Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju, Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain. Taman Nasional Komodo mendapatkan suara terbanyak

    Masyarakat

    Etnis yang berdiam di daerah ini adalah Suku Komodo. Mereka menamakan diri Ata Modo, dan pulau yang mereka diami, mereka sebut Tana Modo. Di tahun 1930an, dikatakan jumlah mereka adalah 143 orang. Namun dalam kurun 47 tahun, pada tahun 1977 jumlah mereka menjadi 505 jiwa

    Pulau Komodo Labuan Bajo, Sejarah, Daya Tarik, Tips Berkunjung, Rute dan Biaya

    Pulau Komodo Labuan Bajo merupakan destinasi wisata utama saat trip Labuan Bajo.
    Kepulauan Komodo merupakan satu-satunya pulau di dunia yang dihuni oleh hewan reptil endemik asli Indonesia yaitu Komodo.

    Kadal besar Komodo ini tersebar di 5 pulau di area Taman Nasional Komodo yaitu di Pulau atau Loh Liang, Pulau Rinca atau Loh Buaya, Pulau Kode, Pulau Gili Motang dan Pulau Padar Labuan Bajo.Taman Nasional Komodo masuk sebagai situs warisan dunia atau World Heritage Site dan Man and Biosphere Reserve oleh UNESCO pada tahun 1986, dan mulai diteliti pada tahun 1911 oleh JKH Van Steyn.Hingga saat ini pulau telah menjadi destinasi wisata favorit bagi wisatawan baik dalam maupun dari luar negeri.Para pelancong traveler dari mancanegara menjadikan pulau Komodo Labuan Bajo sebagai bucket list utama saat liburan wisata ke Indonesia.

    Pulau Labuan Bajo tidak hanya menarik dengan hewan Komodo, tetapi juga memiliki pesona keindahan alam lain yang memukau seperti pantai, hutan dan keindahan bahari bawah laut yang masih alam.,Penasaran dengan pesona wisata pulau koodo labuan bajo, berikut Inspire Travel akan memberikan ulasan informasi tentang daya tarik wisata, tips berkunjung, rute dan biaya trip Pulau Komodo Labuan Bajo.

    Sejarah Dinamai Pulau Komodo

    Mengutip dari wikipedia sejarah penamaan pulau Komodo berawal dari seorang Belanda pada tahun 1910 yang menamai pulau tersebut sebagai pulau . Hal itu diungkapkan melalui cerita dari Letnan Steyn van Hens Broek yang berusaha untuk membuktikan keberadaan hewan besar yang menyerupai naga.

    Letnan Steyn kemudian mendatangi pulau Komodo dan membunuh salah satu komodo yang ada di sana. Hewan yang telah terbunuh tersebut kemudian di dokumentasikan. Hasil dokumentasi tersebut dibawa ke Museum and Botanical garden di Bogor untuk diteliti lebih lanjut.

    Pada tahun 2009, Taman Nasional Komodo berhasil dinobatkan menjadi finalis “New Seven Wonders of Nature” dan Taman Nasional Komodo masuk kedalam jajaran pemenang tersebut bersama dengan Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju, Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain Afrika Selatan

    Legenda Folklore Pulau Komodo

    Sementara itu dari folklore legenda masyarakat menyebutkan jika ada seorang putri pada zaman dulu yang bernama Putri Naga. Putri itu kemudian menikah dengan seorang laki-laki bernama Moja yang berasal dari pulau seberang.

    Setelah itu, sang putri hamil dan melahirkan anak kembar laki-laki. Salah satu anaknya memiliki bentuk yang berbeda, yakni mirip seperti kadal dan diberi nama Orah. Kedua pasangan ini pun malu. Orah inipun sengaja diasingkan di hutan, lalu bayi yang normal bernama Gerong diasuh sampai dewasa dan tumbuh menjadi pria gagah.

    Suatu hari, Gerong berburu rusa, namun ia tidak sengaja bertemu kadal dan ia pun terus mengejarnya dan menghunuskan tombak. Akhirnya putri Naga datang dan melarang Gerong membunuh kadal raksasa tersebut, karena sebenarnya kadal tersebut adalah saudara kembarnya. Sampai saat itu masyarakat sekitar memperlakukan hewan komodo layaknya saudara mereka

    Keunikan Hewan Komodo

    Hewan Komodo Hanya ada di Indonesia

    Menurut studi yang dilakukan oleh Proceedings of the Royal Society B, komodo diketahui merupakan hewan yang lebih suka menetap di tempat kelahirannya meski sebenarnya punya kemampuan untuk menjelajah jalan-jalan dengan jarak yang jauh.

    Bahkan, para peneliti pernah memindahkan beberapa komodo sejauh belasan mil dari wilayahnya, dan hewan komodo ini sukses kembali lagi meski membutuhkan waktu yang lama.

    Komodo Sudah klop adaptasi dengan lingkungannya! Hewan Komodo hidup di daerah yang panas dan kering di Nusa Tenggara Timur. Tubuh serta kebiasaan berburu mereka sudah berevolusi mengikuti kondisi alam ini sehingga akan sulit bagi mereka jika tiba-tiba dipindahkan ke wilayah lain.

    Ekosistem lingkungan yang beragam seperti sabana dan hutan juga mendukung keberadaan berbagai spesies mangsa tempat komodo, hal ini menjadikan komodo sebagai predator puncaknya.

    Hewan Komodo susah cari jodoh! Iya karena komodo merupakan hewan yang gak mau kemana-mana, mereka cenderung melakukan perkawinan sedarah.
    Saat dipindahkan ke lokasi baru, mereka akan kesulitan mendapatkan pasangan yang tidak kerabat.

    Meskipun hal ini memiliki risiko masalah genetik hingga kekurangan makanan, adaptasi yang dilakukan komodo di lingkungan asalnya sudah membuat mereka lebih siap untuk cara bertahan hidup dengan baik.

    Isolasi geografis Pulau Komodo

    Hewan komodo ini tidak mau jauh-jauh dari habitat asalnya, tinggal di pulau yang dikelilingi lautan berarus kuat, hal ini membuat persebaran hewan komodo semakin terbatas di beberapa pulau saja.

    Meski begitu, mereka ini bisa berenang dengan baik lho sobat Inspire Travel, hanya saja mereka tidak punya urgensi untuk menyeberangi laut.

    Hewan Komodo Kebanggaan Masyarakat Indonesia

    Komodo merupakan hewan kebanggan masyarakat Indonesia, hewan endemik ini salah satu hewan yang sangat dilindungi dan diperhatikan konservasinya.

    Keberadaan Taman Nasional Komodo memungkinkan si kadal besar ini agar aman dari perburuan liar dan ancaman lingkungan lainnya, sehingga mereka bisa bertahan dan berkembang biak di habitat aslinya.

    Letak Geografis Pulau Labuan Bajo

    Pulau Komodo secara administratif berada di wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Kecamatan Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau ini sekaligus menandai titik paling barat dari Provinsi Nusa Tenggara Timur dan berbatasan langsung dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

    Pulau Labuan Bajo terletak di Kepulauan Nusa Tenggara dan berada di sebelah timur Pulau Sumbawa. Pulau dengan pulau Sumbawa hanya terpisah oleh Selat Sape dan termasuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat.

    Populasi Hewan Komodo

    Diketahui populasi hewan komodo di Taman Nasional Komodo mencapai 3.396 ekor pada tahun 2023. Jumlahnya meningkat dari tahun 2022 sebanyak 3.156 ekor. Populasi komodo itu tersebar di lima pulau, yakni Pulau  1.694 ekor, Pulau Rinca (1.509), Pulau Kode (92), Pulau Motang (70), dan Pulau Padar (31).
    Populasi komodo tahun 2023 tertinggi dalam enam tahun terakhir. Jumlah komodo terus meningkat sejak 2018 hingga 2021. Jumlahnya menurun pada 2022, namun kembali naik pada 2023.

    Tidak hanya mempunyai hewan komodo, pulau ini juga memiliki flora dan fauna yang sangat eksotis. Salah satunya adalah kayu sepang yang digunakan oleh warga sekitar untuk mewarnai pakaian. Selain itu, pohon tersebut juga mempunyai biji yang gurih dan bisa dimakan.

    Tips dan Aturan Berkunjung ke Pulau Labuan Bajo

    1. Tidak Boleh Trip Sendirian Saat di Jalur Tracking
      Saat trip mengunjungi pulau komodo pengunjung diwajibkan untuk didampingi oleh ranger naturalist guide atau pawang komodo. Ini terutama di area jalur tracking, karena populasi komodo yang menyebar menjadikan semua orang harus selalu waspada akan keberadaan kadal besar ini. Hal ini sangat penting untuk menjaga keselamatan pengunjung dari bahaya hewan komodo.
    2. Tidak Boleh Gaduh Berisik Saat di Sekitar Komodo
      Aturan kedua yang perlu diketahui wisatawan adalah tidak boleh berisik ketika berada di sekitar hewan komodo. Kadal Komodo adalah hewan yang sensitif terhadap suara keras dan gerakan tiba-tiba. Oleh karena itu, penting untuk tetap tenang dan tidak membuat keributan saat berada di sekitar hewan komodo ini untuk menghindari potensi gangguan dan bahkan serangan secara tiba – tiba.
    3. Jaga Jarak Aman dan Info ke Ranger Guide Jika Sedang Haid Datang Bulan
      Untuk wanita yang sedang haid datang bulan atau memiliki luka basah, tak disarankan terlalu mendekati hewan komodo. Sebaiknya informasikan terlebih dahulu kepada ranger guide, supaya tetap dalam penjagaan aman.
      Komodo memiliki penciuman yang sangat sensitif terhadap aroma darah. Jika komodo mencium aroma tersebut, ia akan merasa lapar.
    4. Tetap Jaga Jarak aman dengan Komodo
      Selanjutnya, aturan di pulau Labuan Bajo yang perlu diketahui oleh pengunjung adalah untuk selalu menjaga jarak dengan hewan komodo minimal 2 meter, dan usahakan membelakangi mereka. Hal itu dilakukan untuk menghindari potensi serangan secara tiba – tiba.
    5. Tidak Menyalakan Api atau Merokok
      Pulau Labuan Bajo termasuk dalam kawasan yang rentan terhadap kebakaran hutan. Oleh karena itu, dilarang keras menyalakan api atau merokok di pulau ini demi menjaga keamanan dan kelestarian lingkungan.
    6. Tidak Boleh Memberi Makan Komodo
      memberi makan kadal Komodo besar ini dapat mengubah perilaku alami mereka dan membuat mereka bergantung pada manusia untuk makanan. Selain itu, membawa makanan juga dapat menarik perhatian hewan Komodo dan meningkatkan risiko konfrontasi.
    7. Tidak Boleh Menerbangkan Drone di area Pulau
      Terakhir Drone dilarang terbang di area Pulau dan Pulau Rinca karena bisa mengganggu kenyamanan komodo. Ketidaknyamanan hewan purba yang agresif itu bisa mengancam keselamatan wisatawan. Begitu juga drone dilarang terbang di Pulau Kalong karena bisa mengganggu kelelawar yang menghuni pulau tersebut.

    Rute Jalur ke Pulau Komodo Labuan Bajo

    1. Perjalanan Via Udara
      Trip Labuan Bajo dari dari luar daerah, anda perlu terbang ke Bandara Internasional Komodo Labuan Bajo. Penerbangan ke Labuan Bajo langsung ada dari kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. Durasi penerbangan dari Jakarta ke Labuan Bajo adalah sekitar 2-3 jam tergantung pada rute dan maskapai penerbangan yang kamu pilih.
    2. Perjalanan Via Laut
      Jika anda sudah di Labuan Bajo, perjalanan dilanjutkan dengan transportasi laut menuju Pulau. Biasanya pengunjung akan menggunakan kapal speed boat, kapal pinisi atau perahu wisata. Perjalanan laut memakan waktu sekitar 1,5 hingga 3 jam tergantung kondisi cuaca dan jenis kapal yang dipilih.
    3. Perjalanan ke Pulau Komodo Labuan Bajo
      Ketika sudah sampai di pulau, anda akan disambut oleh petugas Taman Nasional Komodo yang akan memberikan informasi tentang aturan dan rekomendasi selama trip kunjungan di pulau. Dari dermaga wisatawan biasanya akan melakukan trekking ke area di sekitar pulau yang menjadi habitat alami hewan Komodo.

    Durasi Perjalanan dari Labuan Bajo ke Pulau Komodo

    Berapa lama perjalanan dari Labuan Bajo ke Pulau Komodo? waktu tempuh ke Pulau dari Labuan Bajo sekitar 1,5 jam jika menggunakan kapal speedboat dan membutuhkan sekitar 3-4 jam jika menggunakan kapal phinisi, ini tergantung dengan kondisi arus gelombang atau cuaca di laut.

    Biaya trip ke Pulau Labuan Bajo

    Harga trip Pulau  cukup terjangkau, pilihan paket bisa anda pilih pulau trip murah dengan biaya 600 ribu sudah bisa ikut tour komodo one day trip labuan bajo dengan kapal wisata open deck slow boat. Destinasi lain yang dikunjungi selain ke pulau juga trip pulau padar dan pink beach.

    Untuk durasi trip labuan bajo 2 hari 1 malam harga start idr. 1.850.000 untuk sailing komodo dan bermalam di pulau rinca.

    Pilihan trip labuan bajo 3 hari 2 malam harga mulai idr. 2.500.000 dengan bermalam di kapal phinisi dengan tour phinisi liveaboard.

    Pilihan tour komodo lain anda bisa tour speedboat ataupun pilihan dengan bermalam di hotel atau resort premium serta kapal phinisi luxury atau yacht.

  • Taman Nasional Ujung Kulon

    Taman Nasional Ujung Kulon

    Taman Nasional Ujung Kulon terletak di Semenanjung Ujung Kulon, bagian paling barat di Pulau Jawa, Indonesia. Kawasan taman nasional ini pada mulanya meliputi wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang dan Pulau Panaitan. Kawasan taman nasional ini mempunyai luas sekitar 122.956 Ha; (443 km² di antaranya adalah laut), yang dimulai dari tanah genting Semenanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudra Hindia.

    Ujung Kulon merupakan taman nasional tertua di Indonesia yang sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat luas. Sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini.

    Pada awalnya Ujung Kulon adalah daerah pertanian pada beberapa masa sampai akhirnya hancur lebur dan habis seluruh penduduknya ketika Letusan Gunung Krakatau pada tanggal 27 Agustus 1883 yang akhirnya mengubahnya kawasan ini kembali menjadi hutan.

    Tiket masuk ke Taman Nasional ini dapat diperoleh di kantor Balai Taman Nasional di Labuan atau di pos Tamanjaya. Fasilitas penginapan terdapat di desa Tamanjaya, Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang.

    Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis.

    Sejarah dan Status Kawasan

    Kawasan Ujung Kulon pertama kali dijelajahi oleh seorang ahli botani Jerman, F. Junghuhn, pada tahun 1846, untuk keperluan mengumpulkan tumbuhan tropis. Pada masa itu kekayaan flora dan fauna Ujung Kulon sudah mulai dikenal oleh para peneliti. Bahkan perjalanan ke Ujung Kulon ini sempat masuk di dalam jurnal ilmiah beberapa tahun kemudian. Tidak banyak catatan mengenai Ujung Kulon sampai meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883. Namun kemudian kedahsyatan letusan Krakatau yang menghasilkan gelombang tsunami setinggi kurang lebih 15 meter, telah memporak-porandakan tidak hanya pemukiman penduduk di Ujung Kulon, tetapi juga menimpa satwa liar dan vegetasi yang ada. Meskipun letusan Krakatau telah menyapu bersih kawasan Ujung Kulon, akan tetapi beberapa tahun kemudian diketahui bahwa ekosistem-vegetasi dan satwa liar di Ujung Kulon tumbuh baik dengan cepat.

    Perkembangannya kemudian, beberapa areal berhutan ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi, secara berurutan.

    Tahun 1921

    Berdasarkan rekomendasi dari Perhimpunan The Netherlands Indies Society for The Protection of Nature, Semenanjung Ujung Kulon dan Pulau Panaitan ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai Kawasan Suaka Alam melalui SK Pemerintah Hindia Belanda Nomor: 60 Tanggal 16 November 1921.

    Tahun 1937

    Besluit Van Der Gouverneur – Generaal Van Nederlandsch – Indië dengan keputusan Nomor: 17 Tanggal 24 Juni 1937 menetapkan status kawasan Suaka Alam tersebut kemudian diubah menjadi Kawasan Suaka Margasatwa dengan memasukkan Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.

    Tahun 1958

    Berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor: 48/Um/1958 Tanggal 17 April 1958 Kawasan Ujung Kulon berubah status kembali menjadi Kawasan Suaka Alam dengan memasukkan kawasan perairan laut selebar 500 meter dari batas air laut surut terendah.

    Tahun 1967

    Melalui SK Menteri Pertanian Nomor: 16/Kpts/Um/3/1967 Tanggal 16 Maret 1967 Kawasan Gunung Honje Selatan seluas 10.000 Ha yang bergandengan dengan bagian Timur Semenanjung Ujung Kulon ditetapkan menjadi Cagar Alam Ujung Kulon.

    Tahun 1979

    Melalui SK Menteri Pertanian Nomor: 39/Kpts/Um/1979 Tanggal 11 Januari 1979 Kawasan Gunung Honje Utara seluas 9.498 Ha dimasukkan ke dalam wilayah Cagar Alam Ujung Kulon.

    Tahun 1992

    Melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 284/Kpts-II/1992 Tanggal 26 Februari 1992, Ujung Kulon ditunjuk sebagai Taman Nasional Ujung Kulon dengan luas total 122.956 Ha terdiri dari kawasan darat 78.619 Ha dan perairan 44.337 Ha.

    Dalam hal penegasan batas-batas hutan negara, perkembangan penataan batasnya adalah sebagai berikut:

    Tahun 1980

    Dilaksanakan Tata Batas di Cagar Alam Gunung Honje, Berita Acara Tata Batas pada Tanggal 26 Maret 1980, dan disahkan Tanggal 2 Februari 1982 oleh Menteri Pertanian.

    Tahun 1995

    Dilaksanakan Rekonstruksi Batas Taman Nasional Ujung Kulon wilayah G. Honje oleh Badan Planologi Kehutanan. Badan Planologi Kehutanan, Taman Nasional Ujung Kulon bekerjasama dengan Pemerintah New Zealand melaksanakan pemasangan sebanyak 6 ( enam ) yang terdiri dari 1 ( satu ) unit Rambu suar, dan 5 (lima) unit pelampung sebagai batas perairan laut.

    Tahun 1999

    Badan Planologi Kehutanan melaksanakan pemasangan rambu suar kuning di Tj. Alang – alang dan pemancangan titik referensi di Tj. Sodong, Tj. Layar, Tj. Alang – alang, Tj. parat dan Tj. Cina. Badan Planologi Kehutanan melaksanakan pengukuran batas alam pantai Semenanjung Ujung Kulon. Sesuai SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 758/Kpts-II/1999 Tanggal 23 September 1999 menetapkan Kawasan Perairan Taman Nasional Ujung Kulon seluas 44.337 Ha sebagai Kawasan Pelestarian Alam Perairan.

    Tahun 2004

    Balai Pemantapan Kawasan Hutan ( BPKH ) Wilayah XI Jawa – Madura melaksanakan Rekonstruksi Batas Taman Nasional Ujung Kulon di daerah Gunung Honje.

    Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai kawasan yang dilindungi berdasarkan Undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam dan Undang-undang No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan, telah mendapat pengakuan sebagai kawasan yang penting dan dibanggakan secara nasional dan internasional, antara lain:

    Tahun 1992

    Komisi Warisan Dunia UNESCO menetapkan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Natural World Heritage Site (Situs Warisan Alam Dunia) dengan Surat Keputusan Nomor: SC/Eco/5867.2.409 Tanggal 1 Februari 1992.

    Sebagai Kawasan Strategis Nasional dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup (dalam Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional).

    Letak dan luas

    Kawasan Taman nasional Ujung Kulon secara administratif terletak di Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten. Secara geografis Taman Nasional Ujung Kulon terletak antara (06°52′17″S 105°02′32″E) dan (06°30′43″S 105°37′37″E).

    Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992 tentang Perubahan Fungsi Cagar Alam Gunung Honje, Cagar Alam Pulau Panaitan, Cagar Alam Pulau Peucang, dan Cagar alam Ujung Kulon seluas 78.619 Ha dan Penunjukan perairan laut di sekitarnya seluas 44.337 Ha yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Pandeglang, Provinsi Dati I Jawa Barat menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional Ujung Kulon maka luas kawasan Taman Nasional Ujung Kulon adalah 122.956 Ha.

    Ekosistem dan tipe ekosistem

    Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon memiliki tiga tipe ekosistem yaitu:

    • Ekosistem daratan/terestrial, terdiri dari hutan hujan tropika dataran rendah yang terdapat di wilayah Gunung Honje, Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.
    • Ekosistem perairan laut terdiri dari terumbu karang dan padang lamun yang terdapat di wilayah perairan Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Handeuleum, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.
    • Ekosistem pesisir pantai terdiri dari hutan pantai yang terdapat di sepanjang pesisir pantai dan hutan mangrove di bagian timur laut Semenanjung Ujung Kulon.

    Ketiga ekosistem tersebut mempunyai hubungan saling ketergantungan dan membentuk dinamika proses ekologi yang sangat kompleks di dalam kawasan.

    Tipe ekosistem

    Hutan pantai

    Dimulai dengan formasi pes-caprae yang merupakan vegetasi pioner terdapat di sepanjang tepi pantai barat dan selatan. Di atas pasir dekat dengan garis pasang tertinggi antara lain dijumpai Ipomoea pes-caprae (katang-katang), Spinifex littoreus (jukut kiara), Desmodium umbellatum (kanyere laut) dan Sophora tomentosa (tarum laut). Di sepanjang pantai selatan di atas bukit pasir menghadap laut terdapat Pandanus tectorius (pandan duri) membentuk tegakan-tegakan murni dan Pandanus bidur (pandan bidur) walaupun agak jarang.

    Selanjutnya di lapisan lebih dalam ditemui Lantana camara (cente), Hibiscus tiliaceus (waru), Thespesia populnea (waru laut), Tournefortia argentea (babakoan). Lebih turun ke dalam ditemui Drypetes sumatrana (taritih), Laportea stimulans (pulus). Tepat di belakang bukit pasir yang datar dan lembab ditemui Arenga obtusifolia (langkap), Corypha utan (gebang) dan jenis palma lainnya. Kadang-kadang tegakan pandan diganti oleh formasi Barringtonia karena tanahnya lebih lembab dan terlindung oleh angin.

    Formasi Barringtonia di pantai selatan ditandai oleh adanya Barringtonia asiatica (butun), Cerbera manghas (bintaro), Terminalia catappa (ketapang), Syzygium spp. (kopo), Hernandia peltata (kampis cina), Calophyllum inophyllum (nyamplung), Buchanania arborescens (poh-pohan) dan Pongamia pinnata (malapari). Formasi ini juga didapati di pantai utara, di atas pasir karang dalam jalur memanjang sempit dari pantai ke arah dalam sejauh 5–15 m. Di tempat-tempat tertentu yang terbuka di bagian barat daya ditemui Pemphis acidula (santigi laut) dan Ardisia humilis (lempeni).

    Hutan mangrove

    Jenis-jenis bakau yang paling umum terdapat ialah padi-padi (Lumnitzera racemosa), Api-api (Avicennia spp.), Bakau-bakau (Rhizophora spp.), bogem (Sonneratia alba) dan pedada (Bruguiera spp.). Kadang-kadang terdapat Nypa fruticans dan paku laut (Acrostichum aureum) di muara sungai payau. Hutan mangrove yang luas terdapat pada jalur yang luas sepanjang sisi utara tanah genting meluas ke arah utara sepanjang pantai sampai Sungai Cikalong dan Legon Lentah Pulau Panaitan. Di atas sebelah barat laut Pulau Handeuleum dan kedua pulau kecil di sebelah selatan dekat Pulau Handeuleum terdapat hutan rawa nipah yang tidak begitu luas, juga di muara Ciujung Kulon dan Cigenter di pantai utara Semenanjung Ujung Kulon.

    Hutan rawa air tawar

    Hutan ini dicirikan dengan jenis-jenis lembang (Typha angustifolia), teki (Cyperus spp.), walingi (Cyperus pilosus), dan lampeni (Ardisia humilis), yang kadang-kadang membentuk tegakan murni. Pohon yang terdapat di daerah ini antara lain dari familia Palmae misalnya Salacca edulis (salak) dan Caryota mitis (sayar). Hutan ini umumnya berbatasan dengan hutan hujan dataran rendah. Hutan rawa musiman ini terdapat di bagian utara Semenanjung Ujung Kulon dekat dengan Tanjung Alang-alang, Nyiur, Jamang, dan sungai Cihandeuleum.

    Hutan hujan tropika dataran rendah

    Tipe hutan hujan ini menutupi hampir sebagian besar Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peucang dan Gunung Honje. Hutan hujan ini ditandai dengan banyaknya palma dari berbagai spesies terutama Arenga obtusifolia (langkap) yang sering dijumpai dalam tegakan murni di daerah yang letaknya rendah. Spesies palem yang lain adalah Oncosperma filamentosa (nibung), Arenga pinnata (aren), Caryota mitis (sayar), Areca catechu (jambe), Areca pumida (bingbin), Corypha gebanga (gebang), Licuala spinosa (kaman), Calamus spp. dan Daemonorops spp. (rotan). Selain itu terdapat spesies Lagerstroemia flos-reginae (bungur), Ficus spp. (kiara), Diospyros macrophylla (ki calung), Vitex pubescens (laban), Anthocephalus chinensis (hanja) dan Planchonia valida (putat).

    Di daerah yang relatif terbuka seperti di dataran tinggi Telanca mempunyai sedikit pohon besar tetapi rapat oleh semak dan tumbuhan sekunder seperti Achasma spp. (tepus), Nicolaia spp. (honje), Donax cannaeformis (bangban), dan Lantana camara (cente) yang bercampur dengan berbagai jenis rotan dan kadang-kadang terdapat Syzygium polyanthum (salam) dan Leea spp. (sulangkar) serta beraneka ragam spesies liana misalnya Cayratia geniculata (areuy kibarera), Zizyphus tupula (areuy jinjing kulit), Uncaria sp. (areuy kolebahe) dan Embelia javanica (areuy kecembeng).

    Gunung Payung mempunyai hutan primer yang rimbun dan lebih mencirikan vegetasi pegunungan, dengan pohon Dillenia excelsa (ki segel), Pentace polyantha (ki sigeung), Vitex pubescens (laban) dan lain-lain.

    Padang rumput

    Di dalam padang rumput sering ditemui beberapa spesies rumput, di antaranya Cyperus pilosus, Cyperus compactus, Panicum repens, Panicum colonum, Andropogon sp., Isachne miliacea, Imperata cylindrica (lalang) dan Melastoma polyanthum (harendong).

    Flora dan fauna

    Flora

    Flora di Taman Nasional Ujung Kulon membentuk berbagai formasi hutan, di mana formasi hutan ini dicirikan adanya dominasi oleh jenis/spesies tertentu. Ditinjau dari tipe hutan, flora di kawasan ini terdiri dari hutan pantai, hutan hujan tropika dataran rendah, hutan hujan tropika pegunungan, hutan rawa air tawar, hutan mangrove dan padang rumput. Formasi hutan yang cukup lengkap ini mengandung keragaman plasma nutfah serta spesies tumbuhan berguna dan langka yang sangat tinggi. Beberapa jenis tumbuhan diketahui langka dan di pulau jawa hanya terdapat di TN Ujung Kulon antara lain: Batryohora geniculata, Cleidion spiciflorum, Heritiera percoriacea, dan Knema globularia. Banyak pula berbagai jenis tumbuhan yang telah dimanfaatkan masyarakat baik untuk kayu pertukangan, obat­-obatan, tanaman hias maupun pangan. Jenis-jenis yang telah dimanfaatkan tersebut antara lain bayur (Pterospermum javanicum) dan berbagai rotan (Calamus sp.) sebagai bahan pertukangan; kayu gaharu (Aquilaria malaccensis), Kayu cempaka (Michelia champaca) dan kayu jambe (Areca catechu) sebagai bahan obat-obatan; Anggrek (Dendrobium sp.) sebagai tanaman hias; tangkil (Gnetum gnemon) dan salak (Salacca edulis) sebagai bahan pangan.

    Hutan pantai umumnya dicirikan oleh adanya jenis-jenis nyamplung (Calophyllum inophyllum), butun (Barringtonia asiatica), Klampis Cina (Hemandia peltata), ketapang (Terminalia catappa), cingkil (Pongamia pinnata) dan lain-lain. Formasi hutan pantai ini umumnya dikenal sebagai formasi barringtonia dengan spesies yang kurang beranekaragam dan nyamplung merupakan jenis yang lebih khas tipenya. Formasi ini terdapat sepanjang pantai Barat dan Timur Laut Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang, sepanjang pantai Utara dan teluk Kasuaris Pulau Panaitan. Umumnya formasi ini hidup di atas pasir karang dalam jalur sempit memanjang sepanjang pantai dengan lebar 5 sampai 15 meter.

    Fauna

    Taman Nasional Ujung Kulon memiliki beragam jenis satwa liar baik bersifat endemik maupun penting untuk dilindungi. Secara umum kawasan ini masih mampu menampung perkembangbiakan berbagai populasi satwa liar. Di dalam Taman Nasional Ujung Kulon terdapat salah satu spesies langka di dunia, yaitu badak jawa yang bercula satu.Selain badak jawa (Rhinoceros sondaicus), terdapat pula spesies yang dilindungi seperti Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis aigula) dan Anjing hutan (Cuon alpinus javanicus).

    Taman Nasional Ujung Kulon telah menjadi satu-satunya habitat dari badak jawa. Populasinya diperkirakan ada 50-60 ekor. Taman Nasional Ujung Kulon juga menjadi satu-satunya tempat di dunia bagi perkembangbiakan badak jawa secara alami. Di taman nasional ini diperkirakan ada sekitar 30 jenis mamalia, yang terdiri dari mamalia ungulata seperti Badak, Banteng, Rusa, Kijang, Kancil, dan Babi Hutan, mamalia predator seperti Macan Tutul, Anjing hutan, Macan Dahan, Luwak dan Kucing hutan, mamalia kecil seperti walang kopo, tando, landak, bajing tanah, kalong, binturung, berang-berang, tikus, trenggiling dan jelarang. Di antara Primata terdapat dua jenis endemik, yaitu Owa dan Surili. Sedang jenis Primata lain adalah Lutung (Presbytis cristata), Kukang (Nycticebus coucang) dan Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) mempunyai populasi yang cukup baik dan tersebar di sebagian kawasan.

    Banteng (Bos javanicus) merupakan binatang berkuku terbesar dan terbanyak jumlah populasinya (± 500 ekor). Satwa ini hanya terdapat di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje, serta tidak dijumpai di Pulau Panaitan. Rusa (Cervus timorensis) di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje terdapat dalam jumlah dan penyebaran yang sangat terbatas,dan di Pulau Peucang terdapat dalam jumlah yang sangat banyak, dan di Pulau Panaitan menunjukan perkembangan yang semakin banyak. Babi hutan (Sus scrofa), muncak (Muntiacus muntjak) dan pelanduk (Tragulus javanicus) relatif umum terdapat di seluruh kawasan, tetapi celeng (Sus verrucosus) hanya di jumpai di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje.

    Jumlah Fauna

    • Terdapat 35 jenis mamalia
    • Terdapat 5 jenis Primata
    • Terdapat 240 jenis Burung
    • Terdapat 59 jenis Reptilia
    • Terdapat 22 jenis Amphibia
    • Terdapat 72 jenis Insecta
    • Terdapat 142 jenis Pisces
    • Terdapat 33 jenis Terumbu Karang

    Pulau-pulau di Taman Nasional Ujung Kulon

    Di Taman Nasional Ujung Kulon juga terdapat berbagai jenis Pulau yang tepat untuk Konservasi dan juga Pariwisata, di antaranya

    Pulau Panaitan

    Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potensi objek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi.

    Perbukitan Pulau Panaitan terbentuk oleh hutan yang masih asli dengan kombinasi vegetasi Hutan Mangrove, Hutan Pantai dan Hutan Hujan dataran rendah. Keadaan hutannya yang masih asli ini dihuni oleh berbagai jenis satwa liar seperti rusa, kancil, babi hutan, kera ekor panjang, buaya, kadal, ular phyton, dan aneka jenis burung.

    Di Pulau Panaitan ini juga terdapat Arca Ganesha beserta benda-benda peninggalan sejarah lainnya yang mempunyai nilai historis sangat tinggi dan merupakan peninggalan zaman hindu kuno, tepatnya di Puncak Gunung Raksa. Kawasan pantai berbatu dan berpasir putih dengan terumbu karang yang indah di dalamnya sangat baik untuk kegiatan wisata alam bahari seperti menyelam dan selam permukaan. Riak ombak di lautnya cukup tinggi sehingga cocok untuk berselancar.

    Pada beberapa bagian kawasan daratan pulau ini sudah tersedia jalan setapak untuk mengakomodasikan kegiatan tersebut di atas, namun belum dilengkapi dengan sarana/fasilitas pendukung wisata lainnya terutama layanan akomodasi yang memadai bagi wisatawan.

    Pulau Handeleum

    Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove.

    Pesona yang bisa dinikmati di Pulau ini adalah daerah Cigenter, Padang Penggembalaan Cigenter, dan Chika Beumbeum yang jika ditempuh bisa menghabiskan waktu selama 2 (dua) hari. Untuk melewati daerah tersebut diperlukan perahu/kano karena akan menyusuri sungai.

    Hal menarik lainnya yang bisa dilakukan di pulau ini adalah bersampan/canoeing menyusuri Sungai Cigenter sambil melihat tipe hutan hujan tropis sepanjang sungai. Pada bagian hulu sungai terdapat rute jalan setapak yang melintasi tumbuhan bamboo menuju air terjun yang bertingkat.

    Pulau Peucang

    Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai objek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh Wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang antara lain Penginapan, Pusat Informasi, Dermaga, dan lain sebagainya.

    Pantai di Pulau Peucang memiliki karakteristik yang khas yaitu pasir putih dan hamparan yang luas. Objek wisata alam yang dapat dinikmati di pulau ini antara lain Tracking ke Karang Copong, berenang, selam permukaan dan Menyelam. Wildlife viewing dapat dinikmati dengan menyeberang ke Padang Penggembalaan Cidaon yang memakan waktu ± 15 menit dengan menggunakan boat kecil yang berkapasitas 6 (enam) orang. Di Cidaon ini kita dapat mengamati atraksi satwa seperti Banteng, Merak, Rusa, dan Babi Hutan. Selain itu kita juga dapat melihat situs sejarah peninggalan kolonial Belanda berupa Mercusuar Tanjung Layar dan bekas pembangunan Dermaga di Tanjung Layar dan Cibom.

    Semenanjung Ujung Kulon

    Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata alam yang dapat dilakukan di lokasi ini antara lain Trekking, Berkemah dan Mengamati Hewan Liar.

    Di Semenanjung Ujung Kulon terdapat jalur tetap yang dapat digunakan untuk Treking. Fasilitas lainnya adalah Pos Jaga yang terdapat di beberapa titik seperti Karang Ranjang, Cibunar, dan Cidaon. Selain treking, kegiatan wisata lainnya yang dapat dilakukan adalah mengamati kawanan hewan di padang penggembalaan Cidaon dan Cigenter, berkemah di Tanjung Layar, dan wisata budaya di Goa Sanghyang Sirah.

    Gunung Honje

    Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional Ujung Kulon adalah Desa Wisata Tamanjaya.

    Objek wisata menarik yang terdapat disekitar Tamanjaya antara lain Kampung Nelayan Cibanua, Curug Paniis, sumber air panas Cibiuk, dan mengamati Owa Jawa di Curug Cikacang. Fasilitas akomodasi yang terdapat di Tamanjaya antara lain Penginapan Sundajaya, penyewaan perahu/kapal, perkumpulan pemandu wisata/guide lokal, dan pusat pembuatan souvenir patung badak

    Kematian Badak Bercula Satu

    Seekor badak jantan ditemukan oleh Tim Inventarisasi Badak Jawa (Sdr. Baehaki dan tiga personilnya) di sekitar areal Nyiur (E: 060 40’ 34,1” – S: 1050 20’ 22,3”) – Taman Nasional Ujung Kulon, pada hari Kamis, 20 Mei 2010, pukul 14.40 WIB. Lokasi kematian badak dikenal sebagai jalur lintasan/pergerakan badak, dan individu yang mati tersembunyi di bawah pohon. Dengan kondisi yang utuh tulang belulang dan cula badaknya, individu badak itu tersebut telah berada di tempat cukup lama (sekitar satu bulan). Data dan informasi lapangan lain mengenai badak yang mati tersebut, yaitu:

    • Posisi kematian berbaring pada sisi kanan.
    • Cula, kerangka dan gigi-gigi kondisinya masih baik.
    • Tulang belulang yang masih utuh diselimuti larva (belatung) pada cula dan kuku-kuku kaki.
    • Kondisi gigi seri dan geraham cukup baik (masih tajam)
    • Panjang tulang dari ujung kepala ke pangkal ekor adalah 270 cm dengan panjang ekor 55 cm.
    • Kerangka badak berada dalam kondisi 90% lengkap dengan beberapa bagian yang tidak ditemukan berupa: beberapa tulang digit (jari), sternum (tulang dada), 1 (satu) gigi seri kecil/menur, dan ujung tulang ekor.
    • Saat ditemukan tengkorak berada di dekat kuku kaki depan, dan kuku kaki belakang terbenam di dalam tanah sedalam kurang lebih 5–7 cm (lebih dalam dibanding kuku kaki depan).

    Berdasarkan posisi kematian badak serta utuhnya kerangka dan masih adanya cula, kematian badak jantan dewasa ini dipastikan bukan karena usia tua dan bukan karena perburuan liar. Penyebab-penyebab lain yang masih akan dianalisis seperti:

    • Verifikasi gigi herbivora (kondisi dan usia) oleh dokter hewan
    • Analisis tanah di sekitar kerangka badak yang meliputi: logam berat (Hg) dan bahan toksik (Sianida), mikroorganisme (E. Coli, Salmonella), Trypanosoma, Antraks

    TEMPAT BERMAIN SLOT YANG ASIK : MAHKOTA69